All About Videografi

VIDEOGRAFI SEBENARNYA

(Drs. Bambang S)

  1. Visualisasi Film

Proses pembuatan sebuah film yang baik tidak boleh lepas dari sebuah perencanaan yang terdiri dari berbagai macam faktor. Perencanaan yang baik tentunya akan menghasilkan hasil akhir yang diharapkan, baik secara visualisasi maupun tujuan akhir yang ingin diperoleh pembuat film. Raymond Spottiswoode (1955:43) menyebutkan faktor-faktor utama yang mendukung terciptanya sebuah film:

  1. The Visual Film (visual film)

Bagian dari film dimana yang diproyeksikan dan terlihat di layar. Bagian ini terdiri dari :

    1. The Film Material (materi film)

    2. The Camera (kamera)

    3. Illusion (tipuan)

    4. Description (deskripsi/penjelasan)

  1. The Sound Factor (faktor suara)

Bagian dari film dimana yang dihasilkan oleh loud-speaker dan terdengar oleh penonton. Bagian ini terdiri dari:

  1. Speech (dialog/percakapan)

  2. Natural Sound (suara alami)

  3. Music (musik)

  1. The Total Film (film keseluruhan)

Struktur film secara keseluruhan mulai dari konstruksinya, kategori, hingga efek film terhadap penonton.

Hampir serupa dengan penjabaran mengenai faktor-faktor pendukung terciptanya film yang dijelaskan oleh Spottiswoode di atas, Widagdo (2004:2) juga menjelaskan faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Gambar/visual

Gambar dalam sebuah film berfungsi sebagai sarana utama untuk menyampaikan informasi dan menjadi daya tarik tersendiri selain alur cerita.

  1. Suara/audio

Keberadaan suara berfungsi sebagai sarana penunjang untuk memperkuat atau mempertegas informasi yang disampaikan melalui bahasa gambar.

  1. Keterbatasan waktu

Faktor ketiga ini berbeda dengan faktor ketiga yang disampaikan oleh Spottiswoode di atas. Widagdo menjelaskan bahwa faktor keterbatasan waktu merupakan faktor yang mengikat dan membatasi kedua faktor sebelumnya. Oleh karena keterbatasan waktu ini, maka hanya informasi-informasi yang penting saja yang disajikan dalam film.

Dari penjabaran singkat mengenai faktor-faktor utama yang mendukung terciptanya sebuah film di atas, bisa kita simpulkan bahwa pembuatan sebuah film tidaklah mudah. Perencanaan yang matang sangat diperlukan untuk mempermudah proses pembuatan baik dari segi teknis maupun dari pembiayaan hingga dapat menghasilkan sebuah film yang baik. Sebelumnya telah dijelaskan berbagai pembagian jenis film yang dijabarkan dalam berbagai buku dimana kesemuanya merupakan gambaran bahwa jenis-jenis film sangatlah beragam. Perencanaan pembuatan sebuah film yang paling sederhana adalah perencanaan jenis film pribadi, film berita (news reel), atau pada jenis photo-play. Terutama pada jenis film pribadi, biasanya mulai dari perencanaan cerita (story board), pengambilan gambar, maupun penataan gambar (editing) dilakukan oleh satu atau beberapa orang saja. Hal ini disebabkan karena dana yang disediakan tidak banyak atau memang tidak membutuhkan hasil yang harus memenuhi syarat-syarat khusus tertentu seperti halnya film untuk tujuan komersial. Sedangkan pada film berita, juga tidak membutuhkan penanganan khusus untuk visualisasinya karena memang tujuan utama dibuatnya film berita hanyalah untuk menyajikan berita yang sesungguhnya tanpa perlu rekayasa lagi. Film jenis photo-play-pun demikian, kamera yang merekam adegan-adegan tidak perlu digerakkan sama sekali dan pada tahap editing-nyapun tidak memerlukan penyusunan yang sulit karena tidak adanya gerakan dinamis dari kamera. Contoh dari hasil film jenis photo-play adalah seperti yang kita lihat pada acara “Ketoprak Humor” yang pernah ditayangkan di stasiun televisi swasta RCTI. Hasil akhirnya tidak membutuhkan penanganan khusus untuk visualisasinya karena memang yang aktif bergerak adalah para pemain-pemainnya, dan bukan kameranya.

Berbeda dengan jenis-jenis film di atas, jenis film seperti film cerita, lecture film, ataupun film animasi membutuhkan penanganan yang lebih pada bagian perencanaan dan proses pembuatannya. Selain karena tujuan komersil pembuatannya, film-film jenis ini memiliki tahap pergerakan kamera yang dinamis, tahap illusion (tipuan) yang banyak dan sulit baik pada latar, tokoh, maupun efek-efek khusus yang digunakan, dimana kesemuanya itu mengarah pada penataan gambar dan suara yang rumit dan kompleks.

Tahap pertama dari pembuatan sebuah film yang baik adalah mencari cerita atau skenario yang sesuai untuk diangkat menjadi sebuah film. Skenario adalah sesuatu yang penting dalam pembuatan sebuah film, karena merupakan rancangan awal. Sebuah skenario yang baik akan memberi kesempatan yang lebih besar untuk membuat film yang baik daripada sebuah skenario yang buruk. Pada jenis film dengan tujuan komersial, skenario harus merupakan cerita yang mudah dipahami, memiliki jalan cerita yang bagus dengan perencanaan yang bagus pula. Hal ini ditujukan agar ketika film tersebut ditayangkan, penonton akan menyukainya dan ini akan mendatangkan keuntungan yang besar. Selain faktor kualitas secara skenario dan visualisasi, faktor keuntungan material memang menjadi salah satu faktor utama tujuan pembuatan sebuah film komersial. Kemudian untuk dapat mengoperasikan kamera video dan mengambil gambar dengan baik diperlukan keahlian khusus dimana tidak semua orang memilikinya. Ada kalanya seorang kameramen yang berbakat tidak memerlukan pendidikan khusus dan mendapat keahlian tersebut dari pengalamannya selama bertahun-tahun, ada kalanya pula didapat dari pendidikan khusus. Penata cahaya dan penata komposisi gambar yang diambil secara artistik (indah) juga dilakukan oleh orang yang memang dekat dengan dunia seni, misalnya seorang pelukis, desainer, atau semacamnya. Selain itu, masih banyak lagi bidang dalam perencanaan dan proses pembuatan film yang memang selayaknya diserahkan pada seseorang yang ahli di bidang tersebut agar pelaksanaannya tidak berat dan hasilnya bisa maksimal.

Seluruh perencanaan dan kerjasama dari setiap bagian dalam proses pembuatan film terutama pada tahap pasca produksi sangat mempengaruhi berhasil tidaknya jalannya tahap shooting. Perencanaan yang matang akan mempermudah pelaksanaannya di lapangan nanti sehingga visualisasi yang terbaik dari sebuah pengambilan gambar dapat dimaksimalkan. Djauhari (1990) menyebutkan bahwa visualisasi adalah merubah ide dan kata-kata menjadi gambar.

Proses visualisasi sebuah film terjadi pada bagian produksi, dimana lebih terinci adalah sebagai berikut:

    1. Sinefotografi

      1. Piranti shooting

Tahapan shooting adalah tahapan dimana terjadi pengambilan gambar oleh kameramen melalui kamera film. Piranti utama dalam produksi film adalah seperangkat kamera sebagai alat perekam adegan didukung dengan piranti-piranti lain seperti tripod (penyangga kamera), lampu, reflektor, dolly (roda tripod), dan lain sebagainya (Widagdo, 2004:47). Jadi, alat yang dapat mewujudkan visualisasi dari sebuah skenario film adalah kamera film. Secara prinsip, konsep kamera film sama dengan konsep kamera gambar biasa. Perbedaan yang mendasari keduanya adalah kamera gambar biasa hanya merekam satu gambar saja dalam satu kali shot, sedangkan kamera film dibuat untuk merekam banyak gambar-gambar kecil pada pita rekam/seluloid dimana saat gambar-gambar tersebut diproyeksikan dengan proyektornya akan menciptakan ilusi gerakan pada layar proyektor (ACL, 1975:1). Namun, seiring perkembangan teknologi di dunia, perkembangan teknologi kamera telah berkembang hingga menghasilkan piranti baru yang lebih praktis dan canggih. Bentuk kamera yang menggunakan pita atau seluloid diatas disebut juga dengan kamera analog.

Perkembangan kamera yang baru (Widagdo, 2004:48) adalah kamera dalam bentuk digital dalam jenis Mini DV (Digital Video) dan Digital 8. Sedangkan standar kamera di dunia menggunakan dua macam jenis, yaitu sistem PAL (Pashe Alternate Line) dan NTSC (National Television System Comitte). Sistem PAL memiliki frame rate (banyaknya frame rata-rata) 25 frame perdetik, dan biasa digunakan di Indonesia, Cina, Australia, dan Eropa. Sedangkan sistem NTSC memiliki frame rate 29,97 frame perdetik dan digunakan di Amerika, Jepang, Kanada, Meksiko, Korea. Semakin besar angka frame rate pada kamera, maka semakin halus pula perpindahan gambar pada film. Pada perkembangannya, baik kamera analog maupun digital masih digunakan sampai saat ini dengan pertimbangan-pertimbangan kebutuhannya. Perbedaan kedua alat rekam tersebut adalah:

  1. Perekaman kamera analog sesuai dengan sinyal aslinya (elektromagnetik), sedangkan digital adalah perekaman sistem bilangan.

  2. Harga kamera analog lebih mahal dibandingkan kamera digital.

  3. Bahan baku kamera analog menggunakan pita seluloid, sedangkan kamera digital menggunakan pita video.

  4. Hasil perekaman kamera analog tidak dapat dilihat langsung karena membutuhkan proses pencucian terlebih dahulu, sedangkan hasil pada kamera digital bisa dilihat langsung pada layar proyektor yang biasanya terdapat pula pada kameranya.

  5. Hasil jadi kualitas gambar dan kepekaan warna yang dihasilkan kamera analog lebih bagus daripada kamera digital.

  6. Bentuk, ukuran, berat serta pengoperasian kamera digital lebih mudah dibandingkan dengan kamera analog.

  7. Harga bahan baku kamera analog lebih mahal daripada harga bahan baku kamera digital.

  8. Tahap editing hasil perekaman kamera digital lebih mudah daripada hasil dari kamera analog.

Selama ini dikenal beberapa jenis format bahan baku film, yaitu film 8 mm, 16 mm, dan 35 mm. Bahan baku 8 mm sudah jarang ditemui di pasaran. Format 16 mm biasa digunakan untuk pembuatan film non cerita, dan format 35 mm biasa digunakan untuk pembuatan film cerita (Sumarno, 1996:55).

      1. Gerakan kamera

Pergerakan kamera ini merupakan cara untuk menggambarkan sebuah cerita menjadi sebuah visualisasi film. Pergerakan dalam film sendiri terbagi menjadi tiga macam pergerakan (Djauhari, 2003) yaitu:

  1. Gerakan primer (primary movement)

Gerakan ini dibuat oleh pemain atau obyek dalam film, tanpa pergerakan kamera. Jadi, gerakan ini hanya terjadi pada obyek-obyek yang bisa bergerak atau bisa digerakkan. Gerakan ini bermacam-macam tergantung adegan yang akan dilakukan oleh pemain. Berdasarkan posisi obyek semula dalam frame (bingkai film), pergerakan jenis ini dibagi menjadi empat macam (Gaskill dan Englander, 1947:38):

  1. Head-on

Pergerakan obyek head-on adalah pergerakan obyek mendekati atau menuju kamera. Biasanya pergerakan ini berfungsi untuk pengenalan sebuah adegan baru atau menciptakan dramatisasi sebuah adegan.

  1. Tail aways

Tail aways adalah pergerakan menjauhi kamera, berfungsi untuk penyelesaian sebuah adegan, bahkan sebuah cerita.

  1. In frame

Pergerakan in frame adalah pergerakan obyek masuk ke dalam batas frame, berfungsi untuk memadukan dua obyek menjadi satu.

  1. Out frame

Pergerakan out frame merupakan kebalikan dari in frame, yaitu pergerakan obyek keluar dari batas frame dan hilang dari shot kamera.

  1. Gerakan sekunder (secondary movement)

Gerakan ini adalah gerakan yang dilakukan oleh kamera dalam mengambil gambar obyek atau pemain. Pergerakan kamera sendiri merupakan pergerakan yang memerlukan perencanaan khusus agar dapat menggambarkan sebuah adegan dengan baik dan wajar. Kamera merupakan alat pengambil gambar yang menggantikan posisi mata penonton (Iskandar, 1987:54), jadi keberhasilan pengaturan gerak kamera yang baik dan wajar akan mendukung keberhasilan penyampaian pesan sebuah film. Gerak kamera yang tidak direncanakan dengan baik dan mengabaikan pergerakan wajar penglihatan mata manusia akan membuat sebuah film tidak nyaman disaksikan bahkan membuat bingung atau pusing penonton.

Sumarno (1996:57) menjelaskan bahwa gerakan kamera berfungsi mengikuti tokoh atau obyek yang bergerak, menciptakan ilusi gerak atau suatu obyek yang statis, membentuk hubungan ruang antara dua unsur dramatik, atau menandakan subyektifitas tokoh. Gerakan kamera pada dasarnya dibagi menjadi tiga prinsip, antara lain:

    1. Gerak kamera pada porosnya, baik berupa gerakan horisontal maupun vertikal tanpa memaju-mundurkan atau menaik-turunkan kamera. Gerakan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi obyektif yaitu menunjukkan ruang dalam sebuah adegan baru, atau deskripsi subyektif yaitu berupa apa yang dilihat oleh tokoh cerita film. Gerakan ini ada dua macam (Widagdo, 2004:77):

  • Panning

Gerakan kamera menyamping secara mendatar horisontal ke arah kiri maupun kanan. Gerakan ini disebut pan right jika pergerakannya menyamping ke kanan, dan disebut pan left apabila pergerakannya menyamping ke kiri. Pada pengembangannya, selain pan left atau right juga dikenal istilah swish pan atau whip pan dimana gerak panning dilakukan dengan sangat cepat hingga menghasilkan gambar yang buram atau blur. Panning jenis ini biasa digunakan untuk menggantikan transisi gambar dari satu adegan ke adegan lain, atau untuk menunjukkan obyek yang mendapat perhatian lebih (Goodman dan McGrath, 2003:169).


  • Tilting

Gerakan kamera secara vertikal ke arah atas atau ke bawah. Gerakan ini disebut tilt up jika pergerakannya ke arah atas, dan disebut tilt down apabila pergerakannya ke arah bawah.

Gambar 2.13 Skema pergerakan kamera tilting

    1. Gerak kamera yang disebabkan secara fisik dipindahkan dari posisi semula. Alat yang biasanya dipergunakan untuk memindahkan kamera dengan pergerakan yang halus berupa peralatan beroda dan bisa diletakkan di atas semacam rel disebut dolly. Alat lain yang digunakan untuk membuat gerakan yang halus tetapi tanpa rel dan dolly adalah stabilizer atau steady cam dan hand held atau kamera panggul. Gerakan ini ada tiga macam (Widagdo, 2004:78):

    • Tracking.

Ada empat macam tracking, yaitu gerakan kamera yang digerakkan maju disebut track in, gerak kamera mundur yang disebut track out, gerak kamera ke kanan yang disebut track right, dan gerak kamera ke kiri yang disebut track left. Track in berfungsi untuk menampakkan kesan pendahuluan atau awal, menggambarkan suatu keadaan dramatik atau keadaan jiwa tokoh. Track out berfungsi untuk memunculkan kesan akhir atau penyelesaian, meninggalkan ruang, atau menciptakan kesan kesendirian. Sedangkan track right maupun track left berfungsi menunjukkan urutan sekelompok obyek atau bagian-bagian dari sebuah obyek, mengenalkan obyek, atau menciptakan kesan misterius dari menampilkan sebagian kecil saja sebuah obyek.

    • Crane

Crane adalah gerakan kamera meninggi atau merendah dari dasar pijakan obyek, untuk membantu pergerakan kamera secara optimal yang tidak mungkin dilakukan oleh kamera operator dengan bantuan dolly atau hand held biasa.


    • Following

Gerakan ini secara prinsip hampir sama dengan tracking, namun dengan tambahan pergerakan kamera ini mengikuti kemanapun obyek bergerak.

    • Arc

Gerakan ini adalah gerakan melingkar kearah kanan atau kiri obyek. Arah gerak melingkar ke kiri disebut arc left, dan ke kanan disebut arc right (Goodman dan McGrath, 2003:168).

    1. Gerak kamera yang disebabkan karena perubahan panjang titik api (focal length). Panjang titik api merupakan suatu ukuran (biasanya dalam ukuran milimeter) jarak dari pusat permukaan lensa sampai ke bidang datar. Lensa yang titik apinya bisa diubah-ubah disebut lensa zoom. Dengan lensa zoom ini, tangkapan gambar subyek bisa diperbesar berlipat-lipat kali hingga dikecilkan lagi ke ukurannya semula tanpa harus memindahkan fisik kamera. Fasilitas zoom ini terdapat pada semua jenis kamera film baik kamera analog maupun digital. Gerakan ini sebenarnya bersifat ilusional karena sebenarnya kamera tidaklah bergerak sama sekali, tetapi dibuat seolah-olah bergerak melalui tampilan visual yang membesar dan mengecil. Kelebihan zoom dibandingkan gerakan tracking adalah kamera operator tidak perlu menggerakkan kameranya sama sekali terutama untuk pengambilan gambar yang memang sulit dilakukan karena kendala lokasi. Kekurangan zoom ini adalah gambar yang ditangkap kurang stabil dan mudah terguncang, jadi dibutuhkan alat untuk menstabilkan kamera. Selain itu, zoom sulit dilanjutkan dengan gerakan kamera lainnya karena posisi kamera sesungguhnya tidak berada seperti kelihatannya. Zoom terdiri dari dua jenis, antara lain:

    • Zoom in, perbesaran ukuran obyek pada layar.

    • Zoom out, pengecilan ukuran obyek setelah dilakukan zoom in pada obyek.

  1. Gerakan tersier (tertiery movement)

Gerakan ini adalah gerakan yang terjadi karena keseimbangan shot dan diambil dengan beberapa kamera. Gerakan ini dibentuk oleh susunan beberapa gambar yang disatukan dengan sebuah cut to (perpindahan dari satu gambar ke gambar yang lainnya). Ketiga pergerakan dasar dalam film diatas dapat digunakan satu persatu atau melalui penggabungan yang saling mendukung satu sama lain.

      1. Sudut pandang kamera

Sebuah film yang bagus (Gaskill dan Englander, 1947:3) bukanlah mengenai bagaimana gambar-gambar film tersebut diproyeksikan, tetapi mengenai bagaimana setiap gambar-gambar yang bercerita tersebut dapat saling berhubungan dengan bagus satu sama lain secara halus, berhubungan, dan logis. Kesinambungan gambar pada sebuah film menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak. Secara teoritis, Gaskill dan Englander mendefinisikan teori kesinambungan gambar dalam film sebagai sebuah cara yang tepat dalam mengembangkan dan menghubungkan sequence-seguence film secara halus, dan menjadikan cerita-ceritanya dapat saling berhubungan. Pengertian sequence dalam perfilman didefinisikan sebagai rangkaian shot-shot dalam satu peristiwa. Sumarno (1996:37) menyebutkan bahwa shot adalah dipotretnya sebuah subyek, saat tombol kamera dipijit dan dilepaskan, sebagaimana yang ditentukan dalam skenario. Sebuah film terdiri dari ratusan bahkan mungkin ribuan shot yang membentuk sequence-sequence, dan setiap shot dihasilkan dengan pertimbangan sudut pandang kamera terhadap aksi-aksi yang hendak direkam. Tiga faktor yang menentukan sudut pandang kamera adalah sebagai berikut:

  1. Besar-kecil subyek.

Besar-kecil subyek hasil shooting ini ditentukan oleh jenis-jenis shot yang dilakukan. Secara garis besar, macam-macam shot dibagi menjadi tiga:

    1. Close up (CU)

Close up merupakan shot kamera dari jarak yang sangat dekat dan hanya menampilkan bagian tertentu saja dari subyek, misalnya wajah seseorang. Shot jenis ini menampilkan detail dari subyek, dan paling sesuai untuk menampilkan ekspresi emosional dari tokoh. Shot jenis ini juga masih bisa dikembangkan lagi menjadi beberapa macam shot lagi (Widagdo, 2004:55):

      • BCU (Big Close Up) atau ECU (Extreme Close Up), adalah shot paling dekat pada obyek dan menunjukkan detail-detail paling kecil.

      • MCU (Medium Close Up), adalah shot close up yang berjarak lebih dekat dari medium shot tetapi tidak sedekat close up.


    1. Medium shot (MS)

Medium shot merupakan shot kamera dari jarak yang lebih dekat dari long shot. Dalam pengambilan subyek manusia, jarak kira-kira untuk shot jenis ini adalah kurang lebih setengah badan.


    1. Long shot (LS)

Long shot merupakan shot kamera dari jarak yang cukup jauh dan menampilkan keseluruhan bagian dari subyek, termasuk latar (background). Shot jenis ini bisa dikembangkan lagi menjadi Extreme Long Shot (ELS), dimana merupakan shot yang diambil dari jarak yang sangat jauh dan menampilkan background sebagai gambar dengan porsi yang dominan. Jenis shot yang mendekati definisi long shot tetapi berdiri dengan pengertian sendiri adalah Full Shot (FS), dimana merupakan jenis shot yang menampilkan keseluruhan tubuh pemain, baik itu orang dewasa atau anak kecil, anjing atau gajah, atau siapapun obyek tersebut (Gaskill dan Englander, 1947:19).


  1. Sudut subyek.

Dalam film, semua benda yang memiliki bentuk tiga dimensi akan ditayangkan dalam bentuk dua dimensi. Jadi, efek kedalaman atau wujud materi benda tidak dapat digambarkan begitu saja tanpa menentukan sudut pengambilan yang tepat untuk mendapatkan efek tiga dimensi (Sumarno, 1996:40). Secara garis besar, jenis-jenis sudut pengambilan gambar dibagi menjadi dua (Gaskill dan Englander, 1947:50), yaitu:

    1. Flat angle

Pengambilan gambar dari sudut depan atau samping subyek secara lurus sehingga hanya satu sisi saja yang bisa terlihat. Biasanya, jenis sudut ini hanya digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu saja. Misalnya, untuk gambar background atau gerakan head-on atau tail aways yang dilakukan subyek.

    1. Oblique angle

Pengambilan gambar dari sisi miring sehingga subyek terlihat minimal dari sisi samping dan depan. Jenis pengambilan gambar dengan sudut seperti ini seringkali digunakan karena subyek lebih terlihat berwujud tiga dimensi.

  1. Ketinggian kamera terhadap subyek.

Ketinggian dan sudut kamera yang berbeda-beda dapat menciptakan suasana yang berbeda-beda pula, seperti dramatisasi adegan, ketegangan, bahkan misteri (Gaskill dan Englander, 1947:49). Tinggi rendahnya pengambilan gambar terhadap subyek dapat dibagi menjadi tiga, antara lain (Hai, 2005:45):

    1. High angle

High angle adalah teknik pengambilan gambar dengan posisi kamera dari atas (lebih tinggi). Posisi seperti ini berfungsi untuk memberi penekanan point of view (pemandangan sekitar), dan memberi kesan bidang luas dengan karakter kecil. Pengembangan teknik pengambilan gambar dengan posisi ini adalah top angle dan bird eye view (Widagdo, 2004:64). Top angle adalah pengambilan gambar tepat di atas subyek atau peristiwa dan memandang lurus ke bawah, dan biasanya bertujuan untuk menimbulkan kesan misteri. Bird eye view adalah pengambilan gambar dengan posisi yang sangat tinggi dan dinamis (bergerak), seperti penglihatan seekor burung. Bird eye view biasanya bertujuan untuk menampilkan keseluruhan bagian dari sebuah wilayah atau untuk pembukaan adegan awal film.


    1. Eye level

Eye level adalah sudut pengambilan gambar dengan ketinggian seperti yang dihasilkan mata manusia normal. Posisi seperti ini terkesan monoton, karena ditujukan untuk penekanan pada adegan-adegan tertentu seperti misalnya percakapan antar tokoh.


    1. Low angle

Low angle merupakan posisi pengambilan gambar berkebalikan dari posisi high angle dimana pengambilan dilakukan dari sudut bawah. Pengembangan dari low angle adalah frog eye level (Widagdo, 2004:66), yaitu pengambilan gambar dari posisi sangat rendah seperti pandangan mata seekor katak.


Sudut pandang kamera mempengaruhi bagaimana penonton ikut merasakan kejadian atau peristiwa di dalam film. Dalam kaitannya dengan keikutsertaan penonton, sudut pandang kamera dalam film dapat dibagi menjadi dua macam (Sumarno, 1996:43), yaitu:

  1. Obyektif angle

Sudut pandang kamera dikatakan obyektif angle apabila gambar yang tampil di layar dimaksudkan sebagai penglihatan obyektif penonton terhadap subyek.

  1. Subyektif angle

Sudut pandang kamera dikatakan subyektif angle apabila penonton diajak berpartisipasi melihat segala sesuatu yang disaksikan dan dirasakan oleh tokoh film.

      1. Tata cahaya dan warna

Tata cahaya atau lighting dalam film selain untuk membantu kamera menangkap gambar, secara psikologis juga berfungsi untuk menciptakan suasana tertentu dan mempertegas karakter tokoh (Widagdo, 2004:89). Tata cahaya dalam film berdasarkan peletakkannya dari obyek dibagi menjadi tiga (Hai, 2005:46), antara lain:

  1. Lighting samping

Penataan jenis ini menempatkan lampu samping sebagai lampu dengan pencahayaan yang dominan. Penataan jenis ini ditujukan untuk membangun karakter yang kuat, keras atau dramatisasi adegan.

  1. Lighting atas

Lighting atas dominan menciptakan suasana terang dan biasanya digunakan untuk memberikan pencahayaan utuh seperti efek sinar matahari.

  1. Lighting bawah

Lighting dengan dominasi cahaya bawah biasa digunakan untuk dramatisasi adegan, menimbulkan suasana mencekam, atau misteri.

Seluruh tata cahaya dengan satu sumber dominan dapat dikurangi intensitasnya dengan menambah intensitas cahaya yang berseberangan, dan bayangan-bayangan yang tidak diharapkan dapat diatasi dengan bantuan reflektor (pemantul cahaya). Semakin kontras pantulan cahaya yang diciptakan, semakin dalam efek dramatisasi adegan yang ingin ditonjolkan. Sumarno (1996:52) menyebutkan bahwa untuk menunjang adegan-adegan ceria, dimunculkan tata cahaya yang dominan cerah dan terang. Sebaliknya, apabila adegan bertema sedih dimunculkan tata cahaya yang dominan dengan cahaya muram atau gelap. Berdasarkan intensitasnya, tata cahaya dibedakan menjadi tiga:

  1. Tata cahaya gelap, dimana tata cahaya ini dapat menimbulkan efek sedih, misteri, jahat, dan biasa digunakan ketika alur cerita berada pada terjadinya konflik.


  1. Tata cahaya normal, dimana tata cahaya ini menimbulkan efek datar, biasa digunakan ketika film belum mengalami konflik dan pengenalan tokoh pada permulaan cerita.


  1. Tata cahaya terang, dimana tata cahaya ini menimbulkan efek riang, segar, bebas, lepas, dan biasanya digunakan ketika konflik dalam film sudah diselesaikan atau cerita berada pada alur dengan suasana bahagia.


Tata warna dalam film ditentukan oleh beberapa hal. Selain dari tata cahaya, warna pada gambar film juga ditentukan pada peralatan kamera dan filternya, serta pada tahap editing. Tata cahaya dengan intensitas yang terang tentunya akan semakin menambah nilai pada warna yang terkena cahaya tersebut sehingga warna akan semakin tampak. Sedang pada tata cahaya intensitas rendah, maka nilai warna tersebut akan berkurang dan menjadi gelap sehingga akan kurang atau tidak tampak. Filter kamera menentukan efek apa yang ingin dicapai pada gambar melalui kamera. Filter ini akan membuat gambar memiliki distorsi atau ketidak wajaran. Meskipun gambar tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya, bukan berarti gambar akan menjadi tidak indah. Filter warna akan memberi nuansa warna tertentu pada hasil gambar. Filter merah akan memberi nuansa kemerahan pada gambar, filter biru akan memberi nuansa kebiruan, dan lain sebagainya. DOP (Director of Photography) harus bisa menentukan pengaturan warna yang tepat untuk film agar visualisasi cerita dapat tercapai dengan baik.

Warna-warna tertentu memberikan efek psikologis tertentu pula pada penonton. (Prawira, 1989:43) Secara garis besar, macam-macam warna dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

        1. Warna panas atau hangat.

Yang termasuk warna panas adalah warna merah, kuning, jingga, dan yang sejenisnya. Sifatnya adalah positif, agresif, aktif, merangsang.


        1. Warna dingin atau sejuk.

Yang termasuk warna dingin adalah hijau, biru, ungu, dan yang sejenisnya. Sifatnya adalah negatif, mundur, tenang, tersisih, aman.


Berikut akan dijabarkan mengenai efek-efek psikologis pada beberapa warna, antara lain (Prawira, 1989:58):

  1. Merah

Warna merah adalah warna terkuat dan paling menarik perhatian. Warna ini diasosiasikan sebagai darah, marah, berani, seks, bahaya, kekuatan, kejantanan, cinta, kebahagiaan. Warna ini menempati urutan tertinggi dalam urutan warna yang paling disukai.

  1. Biru

Biru adalah warna sejuk, pasif, tenang, damai, spiritual, kesepian, kesendirian, membuat jarak, terpisah. Warna ini menempati urutan kedua yang paling disukai.

  1. Hijau

Hijau memiliki karakteristik yang hampir sama dengan biru, tetapi lebih netral. Warna ini diasosiasikan sebagai istirahat, damai, perenungan, kepercayaan, keabadian.

  1. Kuning

Warna kuning adalah warna cerah, kesenangan, kelincahan, intelektual.

  1. Putih

Warna ini memiliki karakter positif, merangsang, cemerlang, ringan, sederhana, kesucian, polos, jujur, murni.

  1. Kelabu

Kelabu melambangkan ketenangan, sopan, sederhana, rendah hati, intelegensia tinggi. Tetapi dapat juga bersifat keragu-raguan.

  1. Hitam

Warna ini melambangkan kegelapan, ketidak hadiran cahaya, misteri, kehancuran. Dapat pula diasosiasikan sebagai warna yang tegas, kokoh, formal, dan struktur yang kuat.

      1. Komposisi

Pengertian komposisi (Boucher, 1959:313) secara sederhana adalah kegiatan menyeleksi dan menata beberapa bagian dari sebuah gambar menjadi sesuatu yang menarik. Pengertian secara lebih mendalam adalah suatu kegiatan mengatur bidang, garis, warna dan bentuk benda-benda berwujud tiga dimensi dalam wujud gambar atau dua dimensi. Komposisi dalam film berkaitan erat dengan penekanan melalui gerak (Sumarno, 1996:54). Tiap subyek yang bergerak akan segera menarik perhatian penonton dibandingkan subyek yang tidak bergerak. Pengaturan komposisi dalam film disesuaikan dengan ukuran frame yang telah ditetapkan sebelumnya. Ukuran frame ditentukan oleh ukuran bahan baku film yang digunakan. Perbandingan antara tinggi dan lebar hasil penayangan disebut ukuran layar (aspect ratio). Terdapat perbedaan untuk ukuran layar di televisi dan di bioskop. Ukuran layar (Hai, 2005:43) untuk televisi adalah 1 : 1,33. Sedangkan ukuran layar bioskop saat ini dibedakan menjadi tiga, yaitu sistem Amerika sebesar 1 : 1,85, sistem Eropa sebesar 1 : 1,66, dan sistem sinemaskop sebesar 1 : 2,35. Komposisi dalam film menyesuaikan dengan frame film yang sudah ditentukan di atas.

Secara garis besar, pengaturan komposisi yang baik memperhatikan prinsip-prinsip seni yang dijabarkan menjadi beberapa komponen (McCoy, 1972:183). Prinsip-prinsip dasar seni tersebut adalah:

  1. Harmony

Harmony atau harmonisasi adalah pengaturan komposisi yang menghasilkan kesan kesinambungan, berkaitan, atau keserasian. Ada lima tipe harmony, antara lain keharmonisan garis atau bentuk, ukuran, tekstur, ide dan warna. Unsur garis merupakan unsur yang sangat penting dalam seni dan fotografi. Garis dapat menuntun mata keluar dari gambar atau menuju satu titik perhatian utama. Garis juga dapat menciptakan ilusi mata. Pernyataan ini berarti mata mengalami distorsi dan tidak dapat melihat sesuatu sebagaimana mestinya. Kombinasi garis menciptakan bentuk, dan bentukpun harus memiliki keharmonisan.

  1. Proportion

Ketika dua benda dipertemukan bersama, selalu memunculkan pertanyaan mengenai hubungan atau proporsi. Bangsa Yunani adalah penemu pertama konsep proporsi yang terkenal dengan proporsi 2 : 3,25 dan 3 : 5. Konsep pembagian ruang ini terus digunakan hingga sekarang, misalnya sebagai konsep pembangunan gedung-gedung atau ukuran kertas foto 2 x 3 dan 3x 4 juga menggunakan konsep ini. Penempatan obyek tidak harus berada tepat di tengah frame, melainkan harus berada dalam proporsi yang tepat antar bagian-bagiannya. Bagian-bagian yang dimaksud adalah bagian dimana shot untuk sebuah bagian dari obyek yang dibutuhkan untuk membangun cerita adalah bagian yang penting dan harus ditunjukkan dalam frame. Jadi, proporsi obyek beserta latarnya haruslah tepat dalam artian tidak berlebihan maupun kekurangan.

  1. Balance

Balance atau keseimbangan diartikan sebagai komposisi yang dirasakan tepat atau nyaman, kestabilan. Dalam melakukan shot, posisi obyek, antar obyek dengan obyek, atau antar obyek dengan latar harus berada dalam komposisi yang seimbang secara nilai. Ada dua jenis keseimbangan, yaitu:

    1. Formal balance

Keseimbangan jenis ini menempatkan dua sisi yang memiliki ciri yang sama persis satu sama lain, baik itu atas dengan bawah, kiri dengan kanan, atau diagonal. Keseimbangan jenis ini terkesan agak monoton dan jarang bisa menampilkan kesan ruang atau efek tiga dimensi.

    1. Informal balance

Keseimbangan jenis ini tidak menempatkan dua sisi yang sama persis, tetapi menempatkan dua sisi yang memiliki nilai yang sama sehingga tercapai rasa keseimbangan tertentu. Keseimbangan ini menimbulkan kesan yang lebih variatif atau dinamis dan bisa menimbulkan kesan ruang atau tiga dimensi yang dalam.

  1. Rhythm

Rhythm atau irama didefinisikan dalam komposisi sebagai pengulangan garis, bidang, atau bentuk yang bisa menambahkan keindahan sebuah komposisi. Dalam film, irama ini diciptakan dalam bentuk gerakan yang merupakan ilusi dari rangkaian gambar. Unsur irama ini merupakan keindahan, keseimbangan, kesinambungan yang diciptakan melalui gerakan kamera baik itu gerakan primer, sekunder, maupun tersier terhadap obyek. Komposisi irama yang diciptakan gerakan menciptakan karakterisasi dan menambah penghayatan sebuah adegan melalui keindahan yang diciptakannya.

  1. Emphasis

Emphasis atau pusat perhatian dalam sebuah komposisi ditonjolkan untuk menunjukkan bagian-bagian dari gambar yang lebih penting dari bagian yang lainnya. Penonjolan bagian tertentu hingga menjadi pusat perhatian tersebut bisa melalui pembedaan warna, gerak, bentuk, cahaya atau tekstur secara kontras. Hal ini penting karena dalam satu komposisi shot, pasti ada bagian atau unsur tertentu yang perlu mendapat perhatian lebih dari bagian atau unsur yang lainnya karena menyangkut jalan cerita. Peletakan objek agar dapat berfungsi sebagai emphasis yang baik biasanya terletak pada persilangan garis yang ditetapkan berdasar teori tiga garis pada prinsip seni kedua, yaitu proportion.

  1. Perspective

Perspective atau perspektif adalah komposisi gambar dimana obyek yang ditampilkan diambil gambarnya dari sudut yang memungkinkannya tampak memiliki ruang atau bentuk (tiga dimensi). Kesan kedalaman ini penting untuk lebih menunjukkan kesan kenyataan dari gambar film yang sesungguhnya hanya dua dimensi saja.

Sedangkan Soetjipto (1990:35) juga menjelaskan mengenai prinsip-prinsip seni yang mendukung terciptanya sebuah komposisi yang baik seperti yang dijelaskan oleh McCoy di atas, tetapi ia menambahkan prinsip kontras atau perbedaan visual sebagai salah satu faktor yang mendukung sebuah komposisi. Komposisi gambar dengan unsur kontras dapat menambah aksen atau penekanan untuk menciptakan keseimbangan, emphasis, proporsi, bahkan harmony. Penekanan yang diciptakan dari kekontrasan pada komposisi dapat menimbulkan efek dramatisasi yang kuat pada adegan dalam sebuah film.

Dalam pengambilan shot-shot pada sebuah film, seorang DOP (Director of Photography) dituntut untuk dapat menentukan hasil pengambilan gambar yang terbaik untuk filmnya. Pengambilan shot tersebut merupakan sesuatu yang harus sudah dirancang sebelumnya oleh DOP agar dapat memvisualisasikan cerita sebaik mungkin. Prinsip-prinsip seni untuk komposisi di atas memang dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam sebuah komposisi untuk dapat menghasilkan unsur keindahan yang terbaik (McCoy, 1972:197), meskipun tidak harus semua dipikirkan. Pengalaman adalah kunci utama agar seorang DOP dapat memikirkan komposisi dengan prinsip seni apa yang paling tepat, dan menerapkannya dalam pengambilan shotnya.

Ada beberapa peraturan dalam mengatur komposisi peletakan gambar dalam pengambilan shot-shot film (Goodman dan McGrath, 2003: 173). Peraturan utama tersebut adalah:

  1. Pengaturan tiga bagian (the rules of three)

Pengaturan ini adalah pengaturan dari prinsip seni yang kedua yaitu proportion. Prinsip ini lebih diutamakan dalam pengaturan komposisi karena prinsip ini adalah prinsip yang paling utama atau dasar. Telah disebutkan sebelumnya bahwa prinsip inilah yang pertama kali diungkapkan sejak jaman Yunani kuno. Frame dibagi menjadi tiga secara vertikal dan horisontal. Objek yang diletakkan sepanjang garis adalah objek yang menciptakan komposisi yang nyaman. Sedangkan titik dimana garis-garis tersebut bertemu adalah tempat yang paling menarik perhatian dalam frame, dimana disinilah biasanya ditempatkan objek yang berfungsi sebagai emphasis.


  1. Pengaturan adegan dengan sumbu 180 derajat

Pengaturan ini berfungsi utama pada adegan dimana dua pemeran saling berdialog. Pengaturan ini adalah pengaturan dimana arah obyek pada layar harus tetap konsisten. Sebagai contoh, dalam adegan dimana A berdialog dengan B, si A menghadap ke kanan dan si B menghadap ke kiri. Maka, sesuai pengaturan sumbu 180 derajat, si A akan menghadap ke kanan dan si B tetap menghadap ke kiri. Garis imajiner berada tepat pada dua titik dimana kedua pemeran berdialog, dimana kamera tidak boleh melewati garis tersebut. Jadi, apabila dilihat dari arah atas, akan terlihat seperti bentuk setengah lingkaran dimana kedua obyek akan berada pada garis lurus dan kamera bergerak sepanjang garis lengkung yang membentuk setengah lingkaran tersebut. Apabila pengaturan ini diikuti, maka dipastikan arah pandang obyek pada film tidak akan berubah dan penonton tidak akan bingung.


  1. Framing subjek

Framing adalah prinsip pengaturan ketiga dimana merupakan pengaturan area kosong diantara obyek. Pengaturan framing ini pada dasarnya ada empat macam, yaitu:

    • Area penting (essential area)

Area penting ini adalah merupakan aturan bahwa ada area penting pada frame dimana obyek utama diletakkan. Besar area ini kira-kira sebesar 80 persen dari tengah dan tidak boleh dilanggar. Hal ini berkaitan dengan pengaturan aspek ratio dimana terdapat pemotongan gambar atas dan bawah pada beberapa macam aspek ratio. Apabila pengambilan gambar dimana obyek utama melewati garis ini, maka shot lebih baik tidak digunakan.


    • Look space

Look space adalah ruang yang harus diberikan pada obyek terutama manusia ketika ia mengarahkan pandangannya. Sebagai contoh, ketika si A melihat ke arah kanan, maka harus ada ruang kosong pada bagian kanan dengan porsi yang lebih banyak dari sebelah kiri obyek.


    • Walk space

Pengertian walk space hampir serupa dengan look space, dimana harus terdapat ruang kosong pada area dimana obyek akan bergerak.


    • Head room

Head room adalah ruang kosong yang terdapat pada bagian atas dari kepala dan sudut dari frame. Apabila pengambilan shot mengikuti aturan tiga bagian, maka head room secara otomatis akan tercipta.


Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s