Editing

    1. Editing (Agung Tri)

Editing secara umum (Goodman dan McGrath, 2003:5) diartikan sebagai kegiatan mengumpulkan, menyiapkan, dan mengatur materi-materi untuk dipublikasikan. Editing juga berarti memperbaiki, menghapus atau mengurangi. Definisi tersebut adalah definisi yang masih bersifat terlalu umum, karena masih belum bisa dispesifikasikan untuk perfilman. Secara khusus, editing berarti sebuah proses mengumpulkan, mengatur, dan menyatukan semua materi menjadi satu kesatuan yang sanggup bercerita melalui gambar dan suara. Materi di atas diartikan sebagai shot-shot, foto, ilustrasi, animasi, judul, suara, musik, dan unsur-unsur lain yang bisa dimasukkan ke dalam sebuah film. Rubin (2002:130) juga menyebutkan bahwa jika merekam gambar adalah menangkap waktu, maka editing adalah memanipulasi waktu. Hal ini sesuai dengan salah satu dari beberapa keunggulan film yang disebutkan Djauhari (2003:3) bahwa film bisa bersifat manipulative atau menipu. Film dalam artian di sini adalah sebagai wujud film cerita yang telah jadi dan setelah mengalami proses editing. Penonton dibuat melihat hanya kejadian-kejadian yang penting untuk ditunjukkan saja dalam film, sehingga misalnya sebuah kisah yang menceritakan perjalanan hidup seseorang selama 25 tahun hanya disajikan selama dua jam film saja tanpa membuat penonton merasa aneh atau merasa tidak wajar. Goodman dan McGrath (2003:7) menyebutkan empat tujuan utama dari editing:

  1. Untuk membangun cerita dari materi gambar yang telah di-shooting.

  2. Untuk memperbaiki kesalahan atau menghapus kesalahan teknis.

  3. Untuk memperpanjang atau memperpendek durasi atau waktu penayangan.

  4. Untuk menggabungkan beberapa cerita atau rekaman dalam satu media rekam.

      1. Piranti editing

Tahapan editing dilakukan melalui dua pilihan cara tergantung jenis kamera yang digunakan. Antara lain:

  • Linier Editing

Linier editing adalah editing dengan metode mengurutkan dari shot yang pertama, kedua, hingga shot yang terakhir (Widagdo dan Gora, 2004:115). Pembuatan film dengan menggunakan kamera berbahan baku film, videotape, atau video digital bisa menggunakan editing dengan metode ini. Untuk bahan baku film, editing yang digunakan secara langsung adalah secara manual (analog). Untuk bahan baku videotape, editing menggunakan alat editing videotape yang mengharuskan untuk menyusun gambar secara berurutan. Sedangkan kamera video digital memungkinkannya untuk dapat diedit secara linier maupun secara non linier. Dengan cara analog (Widagdo, 2004:115), editor harus melakukan editing secara linear, artinya dilakukan dengan cara menata gambar satu demi satu setiap shot mulai dari awal hingga akhir. Apabila terjadi kesalahan di tengah melakukan proses, maka ia harus mengulang kembali proses mulai dari awal lagi.


  • Non Linier Editing

Non Linier Editing adalah editing dengan metode acak (random). Artinya, editor dapat memulai mengurutkan shot-shot dari shot yang mana saja terlebih dahulu sesuai dengan kebiasaanya tanpa harus memulainya dari shot yang pertama (Goodman dan McGrath, 2003:13). Pembuatan film dengan kamera berbahan baku film dan videotape tidak dapat menggunakan metode ini secara langsung, karena metode editing jenis ini hanya dapat dilakukan di komputer dengan sistem gambar biner. (Widagdo, 2004:115) Sedangkan melalui proses digital, editor melakukannya dengan cara non linear dimana secara teknis penyusunan gambar bisa dilakukan secara acak tanpa harus urut dari awal hingga akhir. Apabila terjadi kesalahan, maka ia cukup memperbaiki di tempat terjadi kesalahan tersebut tanpa harus mengulang semuanya dari awal. Pembuatan film dengan bahan baku film maupun videotape hanya dapat diedit secara non linier apabila gambar yang terekam diubah ke dalam format digital. Apabila kita menggunakan kamera digital, maka peralatan yang digunakan untuk melakukan proses editing adalah seperangkat (Goodman dan McGrath, 2003:15) peralatan hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak). Piranti editing secara digital ini membutuhkan seperangkat komputer dengan kapasitas dan memori yang besar, CD room dan DVD atau CD-RW, video capture card, sound card dan speaker active, serta software editing gambar dan editing khusus suara (Widagdo, 2004:114).


Editing melalui proses digital ini selain lebih murah dan cepat, proses pengerjaannya juga lebih mudah dilakukan. Editing jenis ini pada saat ini lebih sering dipilih karena beberapa keunggulan (Goodman dan McGrath, 2003:10), antara lain:

  1. Non destructive, artinya bahan asli film tidak akan rusak meskipun sudah digandakan berkali-kali.

  2. Lossless, artinya kualitas gambar film hasil penggandaan tidak akan menurun.

  3. Random, artinya editing dilakukan mulai dari mana saja dan tidak harus mulai dari awal.

  4. Intuitive, artinya lebih menekankan pada keahlian perasaan editor daripada keahlian mesin.

  5. Layered, artinya gambar terdiri dari lapisan-lapisan tersendiri sehingga bisa diatur ulang urutan-urutan ceritanya.

  6. Unrestricted, artinya tidak dibatasi atau tidak terbatas dalam membuat versi film hasil editingnya.

      1. Tahapan editing

Seorang editor dituntut untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik dan sistematis, karena baik tidaknya sebuah film paling akhir ditentukan pada bagian editing (Iskandar, 1987:76). Tahapan-tahapan dari proses editing pada umumnya adalah sebagai berikut (Widagdo, 2004:115):

  1. Logging

Logging adalah proses memotong gambar, mencatat waktu pengambilan gambar dan memilih shot-shot yang ada disesuaikan dengan camera report.

  1. Digitizing

Digitizing adalah proses merekam atau memasukkan gambar dan suara yang telah di-logging tadi. Di sini editor mulai mengontrol kualitas gambar dan suara disetarakan sesuai dengan konsep film dan konsep edit yang telah disetujui sutradara.

  1. Offline editing

Offline editing merupakan sebuah proses menata gambar sesuai dengan skenario dan urutan shot yang telah ditentukan sutradara. Dalam tahapan ini terjadi aktivitas memanggil gambar yang telah di-logging dan di-digitizing sebelumnya untuk diurutkan sesuai konsep cerita.

  1. Online editing

Online editing adalah tahapan editing dimana editor mulai memperhalus hasil offline, memperbaiki kualitas hasil dan memberi tambahan transisi serta efek khusus yang dibutuhkan. Transisi adalah proses perpindahan gambar antara shot yang satu dengan shot yang lain. Terdapat berbagai macam jenis transisi (Sumarno, 1996:60), antara lain:

    1. Rough cut

Rough cut diartikan sebagai perpindahan secara langsung antara shot yang satu ke shot yang lainnya. Pada umumnya, rough cut ini lebih sering disebut cut saja. Transisi dengan jenis cut ini biasa digunakan untuk menciptakan kesinambungan antar shot dan membentuk sebuah adegan utuh yang bercerita. Dasar pertimbangan untuk melakukan cut adalah untuk menunjukkan adegan yang ingin dilihat oleh mata penonton (Djauhari, 2003). Macam-macam cut adalah sebagai berikut:

      • Cut in, adalah cut yang dilakukan untuk menunjukkan detail sebuah kegiatan yang dilakukan oleh tokoh pada bagian-bagian tertentu. Cut in ini biasanya berupa shot CU atau ECU. Misalnya pada adegan orang yang sedang berjalan kemudian membungkuk untuk mengambil dompet yang terjatuh, maka cut ini dilakukan pada tangan yang tengah mengambil dompet.

      • Cut aways, adalah cut yang dilakukan menuju gambar selain adegan tetapi yang tetap berhubungan. Bentuk shot untuk cut aways bisa bermacam-macam, mulai dari CU, MS, sampai LS. Pada kejadian orang yang berlari karena sedang terlambat menemui seseorang, cut aways dilakukan pada orang yang sedang menunggunya di suatu tempat.

      • Cut on motion, adalah cut yang dilakukan pada gerakan yang akan dilakukan oleh sebuah obyek.

      • Cut on action, adalah cut yang ditujukan untuk menunjukkan gerakan yang tengah dilakukan tokoh.

    1. Fine cut

Fine cut diartikan sebagai perpindahan secara halus antar shot yang satu dengan shot yang lainnya. Biasanya fine cut ini digunakan ketika terjadi pergantian adegan atau babak dalam sebuah film, atau memberikan ilusi waktu untuk sebuah kejadian. Transisi semacam ini dikenal dalam beberapa jenis (Gaskill dan Englander, 1947:81):

  • Dissolve, pergantian antara shot satu dengan shot yang lain dengan cara tumpang tindih atau bersilangan. Transisi jenis ini biasanya digunakan untuk memberikan efek waktu yang agak panjang dari sebuah kejadian yang kemudian disingkat. Efek yang bisa ditimbulkan dari transisi ini adalah efek dramatisasi adegan, seperti misalnya kisah cinta yang romantis, atau drama dengan alur waktu kisah kehidupan yang panjang.


  • Fade in, pergantian dari layar gelap menuju adegan berikutnya secara perlahan-lahan dan halus. Transisi ini biasa digunakan untuk pergantian ke babak baru.


  • Fade out, pergantian dari sebuah shot adegan menuju layar gelap secara perlahan-lahan. Transisi jenis ini biasanya digunakan sebagai penutup dari sebuah adegan.


  • Blur pan (slip pan), transisi jenis ini adalah perpindahan dari adegan satu ke adegan lain dengan cara melakukan panning kamera secara cepat hingga gambar yang terlihat menjadi kabur, dan kemudian semakin jelas kembali dengan adegan baru. Transisi ini biasa digunakan untuk adegan-adegan dengan irama yang cepat seperti adegan film action atau horor.


  • Wipes, adalah transisi dengan cara mengganti shot satu dengan cara digeser diikuti shot yang lain. Transisi ini biasa digunakan dalam satu adegan dengan manipulasi waktu seperti pada dissolve atau blur pan. Wipes memiliki efek yang sedikit berbeda secara penjiwaan dengan dissolve ataupun blur pan, yaitu efek riang, ceria, atau gairah untuk melakukan sesuatu.


Pada perkembangan teknologi software editing saat ini, terdapat masih banyak lagi macam-macam transisi sebagai fasilitas yang disediakan masing-masing software. Tetapi transisi-transisi yang telah disebutkan di atas adalah transisi dasar yang paling sering digunakan untuk editing sebuah film hingga sekarang.

  1. Mixing

Mixing adalah tahapan akhir dimana editor melakukan proses pengisian audio (suara), ilustrasi musik dan efek khusus untuk audio. Pada tahapan ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan pengontrolan suara mulai dari dialog, suara latar, musik pendukung adegan, sampai dengan efek-efek suara yang dibutuhkan dalam film dibuat dan diatur secara teliti sesuai dengan skenario.

      1. Jenis-jenis teknik editing

Setiap cerita film, menuntut untuk diedit dengan teknik-teknik khusus. Hal ini disesuaikan dengan jenis film itu sendiri, tujuan dibuatnya, dan ciri khas editor atau sutradara. Terdapat beberapa jenis editing yang dapat dijabarkan (Sumarno, 1996:61), antara lain:

  1. Teori kesinambungan

Teknik editing kesinambungan adalah dengan cara menata gambar berdasarkan cerita secara berurutan peristiwa dari awal hingga akhir. Ada tiga kesinambungan dasar yang perlu diperhatikan, antara lain:

    1. Perpaduan arah pandang, menyangkut perakitan gambar yang memberikan kesan orang yang sedang berhadap-hadapan.

    2. Perpaduan gerak, menyangkut perpaduan shot yang menunjukkan gerak dari subyek.

    3. Perpaduan posisi, menyangkut tentang posisi tokoh haruslah sama apabila disambung dengan shot berikutnya untuk memberikan kejelasan letak atau lokasi.

Ada dua teknik perpaduan shot yang sering digunakan untuk mencapai kesinambungan gambar atau adegan, antara lain:

      1. Establishing shot.

Perpaduan dengan teknik ini memadukan jenis shot dengan besar obyek yang lebih jauh sebagai permulaan adegan, kemudian dilanjutkan dengan shot-shot yang lebih dekat.

      1. Reestablishing shot.

Teknik ini merupakan kebalikan dari establishing shot dimana adegan dimulai dengan shot-shot dekat untuk detail kemudian dilanjutkan shot yang menampilkan keseluruhan obyek.

  1. Parallel cutting

Teknik ini adalah teknik dimana dua peristiwa yang diungkapkan dengan waktu yang bersamaan, dimana keduanya saling berhubungan secara langsung antar satu sama lainnya.

  1. Contrast editing

Teknik yang menggunakan teknik kontras dalam menghubungkan dua adegan. Seperti misalnya adegan orang yang ditusuk pisau dengan adegan gelas yang jatuh dan melukai kaki.

  1. Cross cutting

Terdapat lebih dari dua cerita yang dirangkai dalam satu kisah, tetapi tidak berhubungan secara langsung antar satu sama lainnya.

  1. Intelectual editing

Teknik editing dimana antar satu sama lainnya sama sekali tidak berhubungan, dan lebih menonjolkan pada penciptaan simbol-simbol atau metafora. Teknik ini biasa digunakan bukan pada film, melainkan pada video klip lagu atau pada film iklan.

      1. Teknik Editing Yang Baik

Dalam proses editing, hal yang paling mendasar dan menjadi materi utama adalah shot (Widagdo dan Gora, 2004:118). Baik tidaknya sebuah hasil editing ditentukan pula oleh bagaimana editor mengontrol shot-shot yang digunakannya. (Widagdo dan Gora, 2004:120) Pertimbangan-pertimbangan editor dalam memilih shot menurut fungsinya dalam cerita dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Fungsional

Shot yang dipilih adalah jenis shot yang nantinya benar-benar dapat berfungsi sebagai pendukung jalannya cerita. Dalam artian, shot tersebut dapat menjalankan fungsinya secara informatik, dramatik, ritmik, atau sekedar sebagai transisi.

  1. Struktural

Shot yang dipilih juga merupakan shot yang nantinya akan menjadi urutan cerita apabila digabungkan dengan shot-shot lainnya. Dalam hal ini, shot-shot tersebut memiliki kesinambungan dengan shot-shot yang berikutnya sehingga urutan cerita dapat diikuti.

  1. Proporsional

Shot yang dipilih juga harus memiliki ketepatan proporsi durasi (waktu) untuk menggambarkan sebuah adegan.

(Goodman dan McGrath, 2003:8) Konsep utama dari editing film sebenarnya adalah dengan mempertimbangkan penonton. Satu-satunya cara terbaik bagaimana kita menceritakan sebuah kisah dalam film kepada penonton adalah dengan melakukan editing.

Setiap hasil yang akan mereka saksikan baik itu film, iklan, atau dokumentasi pada dasarnya hanyalah pengalaman satu arah. Artinya, mereka diharuskan menyaksikan pertunjukan tersebut selama periode tertentu tanpa bisa merubah atau berpartisipasi terhadapnya. Oleh karena itu, editor diharuskan dapat mengatur gambar-gambar sedemikian rupa sehingga penonton terpuaskan dan dapat menikmati jalannya cerita. Seorang editor harus dapat berpikir dari sudut pandang penonton. Apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka ingin saksikan, dan apa harapan mereka harus dapat dipenuhi oleh sang editor.

Konsep ini disebut storytelling atau konsep bercerita. Audiens atau penonton pada umumnya menyukai cerita dengan awal, tengah, dan akhir cerita. Dalam penulisan skenario, struktur ini disebut juga struktur tiga babak. Cerita dimana terdapat pengenalan cerita atau tokoh sebagai awal, munculnya konflik atau masalah, kemudian penyelesaian masalah tersebut. Cara bertutur seperti ini adalah cara bertutur yang paling banyak disenangi karena lebih universal. Bahkan, sebagian besar buku “cara membuat skenario yang baik” di Amerika menggunakan struktur tiga babak ini sebagai landasannya (Ajidarma, 2000:21). Hampir seluruh film-film box office (laris) Hollywood menggunakan struktur ini dalam teknik berceritanya. Terdapat jenis-jenis lain dalam teknik bercerita, seperti mozaik, garis lurus, atau eliptis, tetapi teknik yang paling bisa diterima sebagian besar publik adalah struktur tiga babak (Ajidarma, 200:10).

(Agung Tri W.)

Secara sederhana proses produksi audio-visual terbagi atas 3 tahap yakni (1) pra produksi (pre production), (2) produksi (production), (3) pasca produksi (post production)

BAGAN TAHAPAN PRODUKSI AUDIO-VISUAL

Planning

Budgeting

Script writing

Pra Produksi

Casting

Storyboarding

Shooting

Produksi

Capturing

Cuting

Pasca produksi

EDITING

Compositing

Audio/Visual Effect

Distribution

Karya audio visual adalah karya kreatif. Kreativitas merupakan kunci kualitas. Termasuk dalam krativitas di sini adalah kreativitas menggunakan alat. Prinsip mengutamakan kreativitas ini perlu ditekankan di awal karena pada praktiknya sulit menentukan batas ideal peralatan yang diperlukan untuk sebuah produksi audio visual. Mulai dari nilai nominal jutaan hingga milyaran rupiah. Beberapa film yang dibuat secara independen (istilah untuk produksi yang tidak melibatkan modal besar) ternyata sukses sangat gemilang. Sebaliknya, banyak film yang dibuat dengan peralatan mahal dan sangat lengkap, justru tidak menghasilkan karya yang memuaskan. Sebagai permulaan dapat diperkirakan kebutuhan peralatan yang cukup lengkap dengan harga yang variatif (tergantung merk), menyesuaikan dengan anggaran.

1) Perangkat Video

¸ Kamera video

¸ Video mixer

¸ Video player/reccorder

¸ VCD/DVD Player

2) Perangkat Audio

¸ Mikrofon

¸ Speaker

¸ Tape recorder

¸ Audio Mixer

3) Perangkat Penataan Cahaya

¸ Lighting kit (lampu)

¸ Reflektor

4) Komputer multimedia dengan kelengkapan

¸ Kartu suara

¸ Kartu video editing

¸ Kartu grafik yang menampilkan warna minimal 16 bit dan 1024X768 pixel area

¸ Monitor yang mampu menampilkan 1024X768 pixel area tampilan (minimal 15”)

¸ Speaker

¸ Program audio dan video editing

¸ Program desain grafis

¸ Hard disk dengan kapasitas 40 GB dan kecepatan 7.200 RPM

¸ CD/DVD ROM

Proses editing adalah suatu proses akhir atau finishing yang dilakukan setelah produksi sebuah film atau berita. Dalam proses editing ini, orang yang bertugas sebagai tukang edit adalah Editor. Sebagai seorang editor, hendaklah mempunyai suatu ketrampilan khusus dan imajinasi yang tinggi dalam merangkai dan membuat suatu cerita secara berurutan.

Tugas seorang editor sangatlah sulit, karena baik buruknya suatu hasil produksi sangatlah tergantung pada kinerja seorang editor. Tidak jarang seorang editor mengalami kesulitan dalam meng-edit suatu cerita, banyak sekali masalah -masalah yang harus dihadapi oleh seorang editor dalam proses merangkai dan membuat cerita secara berurutan.

Pada umumnya masalah-masalah yang sering dihadapi oleh seorang editor adalah ia belum mengetahui motivasi-motivasi dalam pemotongan suatu gambar atau cerita, belum mengetahui dasar-dasar editing, mixing (pengontrolan audio atau penyesuaian dubing dengan musik), serta belum mengetahui tujuan dan aturan-aturan dari proses editing itu sendiri.

Semua permasalahan yang ada diatas itu dikarenakan seorang editor belum menguasai secara penuh tentang unsur-unsur dan teknik-teknik dalam merangkai suatu cerita secara berurutan.

Kita harus mengetahui bahwa proses editing sangatlah berperan di dalam dunia Pertelevisian yang saat ini sangat marak di era globalisasi, seiring dengan kemajuan zaman serta peradaban manusia juga dengan keinginan dan selera masyarakat modern, maka dunia Pertelevisian haruslah mengikuti selera masyarakat jika tidak ingin ditinggalkan oleh penontonnya.

Dengan proses editing kita berusaha mencapai yang terbaik untuk usaha melayani keinginan penonton yaitu lewat tayangan Audio Visualnya, ini semua karena kita mempercayai bahwa dengan editing yang bagus kita bisa memanjakan penonton dan kepuasan penonton, paling tidak bisa dipenuhi lewat tayangannya.

Oleh karena itu terlebih dahulu seorang editor harus mengetahui tujuan dan aturan-aturan dalam proses editing itu sendiri. Tujuan dari proses editing adalah :

  1. Memendekkan atau memanjangkan gambar

  2. Mengontrol waktu

  3. Memberikan penekanan pada shot tertentu

  4. Membuat dan merangkai suatu cerita secara berurutan

Sedangkan aturan-aturan editing atau biasa disebut dengan Editing rule adalah :

  1. Harus menyambungkan gambar yang mempunyai motivasi cut

  2. Memotong saat subject bergerak

  3. Panjang shot harus diatur

  4. Sering menggunakan Insert dan Cut away

  5. Membuat suatu cerita menjadi lebih sederhana (tidak membingungkan)

Sepandai-pandainya seorang editor dalam mengerjakan proses editing, itu semua tidak menjamin keberhasilannya jika seorang editor tidak memperhatikan motivasi-motivasi dalam pemotongan suatu gambar atau cerita, atau biasa disebut dengan Cut Motivation. Berikut ini adalah Cut Motivation yang harus diperhatikan oleh seorang editor dalam merangkai suatu cerita :

  • Cut to cut atau Wipe, yaitu untuk kelanjutan cerita, untuk menunjukkan persamaan tempat dan waktu.

Tiap-tiap pemotongan suatu gambar atau cerita mempunyai beberapa alasan yang harus diperhatikan :

    1. Motivation ( motivasi ) : harus mempunyai alasan untuk melakukan pemotongan

    2. Information ( informasi ) : harus mempunyai informasi yang baru

    3. Composition ( komposisi ) : komposisi atau framing harus beralasan

    4. Sound ( ritme ) : dilakukan pada saat ritme cepat

    5. Camera Angle ( sudut pandang lensa kamera ) : Pemotongan gambar harus dari sudut (angle) yang beda

    6. Continuity (berkesinambungan) : setiap pemotongan shot satu dengan yang lain

    7. Memperlihatkan apa yang ingin dilihat penonton

    8. Menyajikan tampilan yang variatif atau tidak monoton

    9. Ada sesuatu yang baru

Tujuan :

    1. Continous action (kesinambungan gerakan)

    2. Change of Impact (pergantian pengaruh yg menimbulkan perubahan)

    3. Change in locale (pergantian tempat kejadian)

  • Super Imposed, yaitu untuk menunjukkan persamaan waktu dan perbedaan tempat.

  • Disolved, yaitu untuk persamaan object, untuk persamaan tempat dan perbedaan tempat.

  • Fade in and Fade out, yaitu untuk menunjukkan perbedaan tempat, waktu, dan sewaktu-waktu untuk menunjukkan object.

Fade in : munculnya gambar secara perlahan-lahan sampai penuh

Fade out : pergantian gambar dengan menghilang secara pelahan-lahan secara dradual sampai menghilang penuh

Melakukan Fade didasari dengan :

  1. Motivation (motivasi), harus beralasan mangapa melakukan Fade

  2. Composition (komposisi), komposisi harus diperhitungkan

  3. Sound (suara), suara harus muncul atau hilang secara perlahan-lahan

Tujuan :

Fade in

  1. The beginning of Progrmme (mulainya acara)

  2. The beginning of a Scene or Sequence (mulainya babak)

  3. Change in time (pergantian waktu)

  4. Change in locale (pergantian lokasi)

Fade out

  1. The end of a Programe (berakhirnya acara)

  2. The end of a Scene or Programe (berakhirnya babak)

  3. Change in time (pergantian waktu)

  4. Chnge in locale (pergantin tempat)

    • Out of Focus or Different Colour, yaitu untuk imajinasi shot

Setelah mengetahui motivasi-motivasi pemotongan gambar, tugas seorang editor belum selesai sampai disitu saja, masih banyak hal-hal yang harus diketahui oleh seorang editor dalam proses editing. Seperti disebutkan pada bab tentang permasalahan, seorang editor juga harus mengerti tentang dasar-dasar editing, dan mixing ( pengontrolan audio atau penyesuaian dubing dengan musik).

Dalam pembahasan kali ini, juga dijelaskan tentang dasar-dasar editing yang harus diketahui oleh seorang editor, dasar-dasar tersebut adalah :

  1. Live on Tape :

Jenis rekaman seperti ini adalah suatu acara direkam secara terus menerus dari awal hinga akhir, sedangkan proses editingnya langsung dilakukan saat itu juga dengan menggunakan Video Mixer dan hasilnya langsung bisa disiarkan.

  1. Retake

Dengan Retake (pengulangan pengambilan gambar apabila terjadi kesalahn yang dilakukan oleh artis, property, dll), dapat melakukan koreksi agar dihasilkan rekaman yang paling baik dan teknik beserta artistiknya juga baik.

  1. Sequence By Sequence

Diantara teknik-teknik di atas, teknik inilah yang paling sempurna. Karena dalam pengerjaannya selalu dilakukan Retake, meskipun tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar, tetapi dalam proses ini dibutuhkan biaya dan waktu yang banyak.

  1. Singgle Source Recording

Teknik rekaman seperti ini adalah menggunakan multi kamera, dengan cara masing-masing kamera merekam sendiri-sendiri dan hasil dari masing-masing kamera di edit pada saat Pasca produksi sampai jadi bahan siap siar.

Kemudian yang perlu diketahui lagi oleh seorang editor adalah proses mixing (pengontrolan audio atau penyesuaian dubing dengan musik). Proses ini termasuk proses terakhir yang dilakukan setelah melakukan pemotongan-pemotongan gambar atau merangkai suatu cerita dan setelah melakukan dubing. Seperti kita ketahui, proses ini adalah proses dimana seorang editor melakukan pengontrolan (khususnya pada audio) apabila audio terlalu keras.

Sebagai tambahan saja, dalam proses editing ada beberapa jenis-jenis editing yang perlu kita ketahui, khususnya seorang editor. Jenis-jenis editing antara lain:

  • Continuity Editing (mengatur cerita), meliputi:

    1. Changing excepted

    2. Acceleration Editing (percepatan editing)

    3. Expanding time (untuk memperpanjang waktu)

    4. Casuality, yaitu editing harus bisa menjelaskan kronologi kejadian atau sebab akibat. (contoh : ada dua mobil bertabrakan, maka editor harus bisa menjelaskan sebab akibatnya)

    5. Motivation (tiap sambungan harus mempunyai motivasi)

      • Relational Editing, yaitu editing tidak hanya mengontrol waktu, tetapi harus bisa menghubungkan gambar yang satu dengan yang lain.

      • Thematic Editing, yaitu editing boleh jumping asalkan masih dalam satu tema. (contoh : Ada orang pacaran, tiba-tiba muncul gambar kucing pacaran)

      • Pararel Editing, yaitu suatu cut (pemotongan gambar) yang tidak ada hubungannya tetapi bolak-balik, untuk menunjukkan persamaan waktu tetapi beda tempat.

      • Dynamic Editing, dynamic editing dapat mempengaruhi kondisi dramatik dari suatu cerita, tergantung bagaimana kita melaksanakn teknik ini, meningkatkan atau menurunkan atau menurunkan nilai dramatik yang disajikan.

(Agung Tri W.)

Membuat dan merangkai suatu cerita bukanlah suatu hal yang mudah yang bisa dilakukan oleh semua orang khususnya seorang editor. Karena dalam hal ini diperlukan suatu ketrampilan khusus dan daya imajinasi yang tinggi untuk merangkai sebuah cerita, yang nantinya akan dipertontonkan kepada masyarakat umum.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa baik buruknya suatu produksi sangatlah tergantung pada kinerja seorang editor. Jadi jika anda ingin menjadi seorang editor, maka anda harus mengetahui dan menguasai secara penuh tentang tindakan-tindakan apa yang harus anda lakukan untuk menciptakan atau menghasilkan sebuah cerita yang berurutan dan berkesinambungan, menarik dan benar-benar layak untuk dipertontonkan kepada masyarakat umum.

Suatu tayangan akan ditinggalkan atau dinikmati terus sampai selesai apabila kepuasan penonton dikecewakan atau dipuaskan, karena sifat kepuasan penonton didasari dengan sifatnya sebagai manusia yang selalu ingin tahu tentang apa yang akan terjadi, apa yang baru, bagaimana kelanjutannya, dll. Oleh karena itu kami tegaskan sekali lagi jika anda ingin menjadi seorang editor, maka anda harus mengetahui dan menguasai secara penuh tentang tindakan-tindakan apa yang harus anda lakukan dalam menciptakan suatu cerita yang berurutan dan berkesinambungan, menarik, dan benar-benar layak untuk dipertontonkan kepada masyarakat umum.

Sebelum muncul teknologi digital editing, semua proses penyuntingan dilakukan dengan menggunakan 1 player video dan 1 recorder video. Cara ini hanya mengijinkan transisi cut to cut saja. Lalu muncul penggunaan 2 player dan 1 recorder yang dilengkapi mixer, teknik penyuntingan ini menyediakan transisi dissolve. Teknologi editing seperti ini disebut A/B roll editing atau Linear Editing. Dengan teknologi editing yang lama, akibat sifat video yang linier, jika pada saat editing ada satu segmen di tengah cerita yang ingin diperpanjang atau diperpendek maka seluruh rangkaian editing dibelakangnya harus diulang kembali. Dengan hadirnya teknologi digital video editing, maka persoalan ini bisa diatasi dengan Non-Linear Editing (NLE). Editing non linier adalah proses menggabungkan antar gambar atau video dengan gambar atau video lain. Metode ini sesuai dengan teknik potong tempel pada editing pada masa lampau. Metode ini mulai diperkenalkan pada pengenalan teknologi video digital.

Dengan metode editing ini video disimpan dalam harddisk terlebih dahulu sehingga bisa dilakukan proses editing yang lebih fleksibel. Satu segmen video bisa dipindahkan atau bisa dipakai secara berulang-ulang. Kita tinggal melakukan drag and drop klip video, gambar, dan audio.

Editing non linier adalah proses menggabungkan antar gambar atau video dengan gambar atau video lain. Metode ini sesuai dengan teknik potong tempel pada editing pada masa lampau. Metode ini mulai diperkenalkan pada pengenalan teknologi video digital.

Teknologi Non-Linear Editing (NLE) menggunakan software/aplikasi untuk melakukan proses capture dan editing. Di pasaran terdapat banyak pilihan software NLE, tergantung pada OS (Operating System) yang kita gunakan, diantaranya Avid Express DV, Final Cut Pro (MacOS), Adobe Premiere Pro, Ulead Video Studio, Vegas Video, Canopus EDIUS dan Pinnacle Liquid Edition. Masing-masing menawarkan fasilitas-fasilitas yang beragam, seperti tersedianya berbagai jenis kompresi video (codec) untuk proses capturing, fasilitas transisi dan efek video real-time, keyframing/animasi, color correction, fasilitas titling, print to tape serta fasilitas kompresi ke dalam berbagai format distribusi seperti VCD dan DVD. Berikut akan dibahas beberapa software yang sering kita gunakan diantaranya :

ADOBE PREMIERE PRO

Adobe Premie Pro dibuat Adobe System Inc, dimana versi ini merupakan pengembangan dari Adobe Premiere terdahulu. Versi ini mulai diluncurkan mulai bulan Agustus tahun 2003. Adobe Premiere terdiri dari beberapa versi, mulai versi 6.0 dapat berfungsi untuk mengedit file video dengan format DV. Saat ini Adobe Premiere telah menjadi standar bagi para profesional dalam bidang digital video. Dengan tampilan barunya Adobe Premiere Pro merupakan salah satu software yang bisa dikatakan memiliki kapasitas sebagai acuan di dalam dunia pengeditan, hal itu bisa kita lihat dengan munculnya beberapa fitur tambahan sehingga semakin menyempurnakan kualitas dari Adobe Premiere Pro.

  • FITUR-FITURNYA

  • Real Time Rendering, dengan fasilitas ini memungkinkan melihat hasil transisi tanpa melalui proses render.

  • Adobe Product Integration, yaitu kita dapat menggunakan berbagai produk Adobe (AdobePhotoshop, AdobeAfterEffects, AdobeEncoreDVD dan AdobeAudition) untuk bekerjasama dengan AdobePremierePro.

  • Audio Mixer, pada versi ini Adobe telah memperbarui fasilitas audio mixernya, yang mendukung track based effects, submix tracks,mendukung proses perekaman voiceover langsung (dubbing), fasilitas panning untuk sorround dan stereo dan VSTfilter.

  • Color Correction, Adobe Premiere Pro mulai versi ini melengkapi dirinya dengan fasilitas eksklusif ini. Fasilitas ini biasanya terdapat pada software editing standar broadcast (highend). Dengan adanya fasilitas ini kita dapat dengan mudah mengkoreksi warna clip video kita sesuai dengan keinginan.

  • Motion Path, pada versi yang baru ini Adobe Premiere Pro menerapkan prinsip key framing untuk animasi perpindahan posisi pada klip-klipnya.

  • Visual Effect yang dilengkapi dengan key frame, sehingga dapat dianimasikan dengan mudah.

  • Fasilitas export dalam berbagai format, Adobe Premiere Pro menyediakan fasilitas ekspor ke dalam berbagai format media seperti MPEG1, MPEG2, MicrosoftDV, AVI dalam berbagai kompresi Windows Media 9 Series dan Real Media9.

Secara kualitas, hasil pengolahan yang menggunakan software ini bisa dikatakan melebihi software-software lain, baik dilihat dari segi kualitas gambar maupun kreasi-kreasi dalam bentuk efek maupun animasi yang diberikan. Namun jika dibandingkan software lain dari segi kemudahan pengoperasiannya, bisa dikatakan software ini memang yang paling rumit jika dibandingkan dengan software lainnya.

  • SPESIFIKASI

PC (Personal Computer) digunakan untuk mengolah file video baik proses capture maupun editing menggunakan software Adobe Premiere Pro. PC yang akan digunakan minimal harus memiliki spesifikasi sebagai berikut :

• Processor Intel® Pentium® III – 800 Mhz

• RAM 256 Mb

• Harddisk  berkecepatan  7200  rpm  dengan  kapasitas  besar   (space  kosong  minimal  20 GB)

• VGA Card 32 Mb (resolusi monitor 1024×768 pixel)

• Sound Card yang mendukung DirectX

• CDROM/RW  dan  DVDROM/RW  untuk  menulis  dalam  format  VCD  maupun DVD

• DV Capture Card/IEEE 1394 Card

• Sistem Operasi Windows XP Home/Pro Edition

Untuk menggunakan Adobe Premiere Pro maka harus menggunakan Microsoft Windows XP sebagai sistem operasinya. Hal ini dikarenakan Adobe Premiere Pro hanya dapat berjalan pada sistem operasi tersebut. Lain dengan Adobe Premiere versi 6.5 yang masih dapat berjalan pada sistem operasi Windows 98SE dan Windows2000.

  • KEKURANGAN

  • Sedikit rumit dibandingkan dengan software lain yang memang lebih sederhana.

  • Tidak bisa digunakan pada OS Unix

  • Tidak bisa di outputkan pada java phone

    • KELEBIHAN

  • Tampilan softwarenya elegan.

  • Lebih lengkap, ditambah dengan keberagaman fitur baru yang bisa digabungkan dengan software Adobe yang lain.

  • Hasilnya lebih baik jika dibandingkan software lainnya, baik dari segi kualitas gambar maupun efek yang dihasilkan.

  • TAMPILAN

PINNACLE LIQUID EDITION

Pinnacle Liquid Edition merupakan salah satu software aplikasi yang biasanya digunakan sebagai alternatif oleh para pemula. Hal ini dikarenakan pada software ini baik secara tampilan maupun kesederhanaan fitur-fiturnya membuat orang awam sekalipun tidak akan kesulitan dalam melakukan proses editing. Namun jika dilihat dari kualitas hasil editing, software jenis ini tampaknya secara keseluruhan tidak terlalu bagus dibandingkan dengan software editing yang lain.

Pinnacle sendiri merupakan software yang khusus diciptakan untuk pengolahan film dan video baik yang diproses dari film asli maupun dari kumpulan gambar atau frame yang disatukan.

  • FITUR-FITURNYA

Banyak sekali fitur-fitur Pinnacle Liquid Edition yang memungkinkan pengguna software ini dimanjakan dengan berbagai kemudahan dalam mengolah karya. Salah satunya adalah :

  • Smart Movie

Smart Movie adalah fitur yang paling populer yang dimiliki Pinnacle Liquid Edition karena dengan fitur ini kita dapat mengolah film yang tidak hanya berasal dari film murni namun juga dari gambar-gambar yang disatukan atau frame. Hasilnya tampak lebih profesional walaupun diproses dengan sentuhan minimal dan mudah.

  • KEKURANGAN

  • Kurang variatif dalam hal keanekaragaman fitur-fitur penunjang pengolahan gambar dan efek.

  • Kreasi yang terkesan monoton walaupun terbilang mudah dalam proses aplikasinya.

  • Hanya bisa di operasikan di Windows.

    • KELEBIHAN

  • Cukup sederhana dan mudah dalam pengenalan fitur.

  • Mudah pengoperasiannya dilihat dari fitur yang sederhana dan mudah diaplikasikan.

ULEAD VIDEO STUDIO 9

Salah satu software yang mudah untuk menransfer dan mengedit video adalah dengan Ulead Video Studio. Salah satu jenis Ulead Video Studio adalah Ulead Video Studio 9. Berikut ini langkah-langkah sederhana untuk mentransfer video dengan Ulead Video Studio (tidak memakai Movie Wizard):

  • KEKURANGAN

  • Pada saat melakukan transfer video dalam waktu 1 jam membutuhkan kapasitas yang lumayan besar yaitu 13 giga

  • Hanya bisa di operasikan di Windows.

  • Tidak bisa mengimport dari IMX

    • KELEBIHAN

  • Mudah digunakan bagi pemula yang ingin belajar mengedit video.

  • Tool yang digunakan tidak terlalu rumit.

  • SPESIFIKASI

Intel® Pentium® III 800 MHz or higher

Microsoft® Windows® 98 SE, ME, 2000, XP

256MB of RAM (512MB or above for editing)

600MB of available hard drive space for program installation

4 GB+ hard drive space for video capture and editing

Windows-compatible display with at least 1024×768 resolution

Windows compatible sound card

CDROM, CD-R/RW or DVD-R/RW

Real-time features perform best with at least:

Pentium 4, 2.0 GHz CPU

512 MB of RAM

7200 rpm IDE hard drive

  • TAMPILAN

Tampilan pertama Tampilan kedua

Tampilan video movie wizard capture Tampilan video movie wizard edit

Video edit_effect video edit_edit

video edit_overlay video edit_title

video edit_share video edit_sounds

video edit_overlay

CANOPUS EDIUS 4

Saat menjalankan Edius 4 pertama kali, tampak tidak ada yang berbeda dengan versi sebelumnya. Tambahan yang terasa adalah sistem menu yang semakin bagus, sangat memudahkan mencari feature yang dulu ada namun tersembunyi.

  • KEKURANGAN

Interfacenya sendiri memang didesain untuk digunakan pada multi monitor, sehingga akan nampak berjejalan walaupun sudah menggunakan resolusi layar 1600×1200. Selain itu dengan satu monitor, besar kemungkinan child windows saling overlap.

    • KELEBIHAN

Proses capture berjalan sangat mulus hanya dengan menggunakan port firewire biasa. Meskipun HDV didukung, namun bila menggunakan OHCI ini sinyal HDV akan ditranscode secara realtime menggunakan codec Canopus HQ. Dengan codec ini qualitas warna lebih bagus dari native DV. Edius mempunyai kelebihan lain dibanding matrox RT.X2 yang hanya dapat menangani HDV 1440×1080, Edius 4 dapat menangani HDV 1920×1080.

Dalam percobaan menggunakan dual 2GB 246 Opteron oleh trustedreview, Edius dapat melakukan mixing lima track DV dalam real time. Sedangkan bila dalam HD dapat melakukan dua track dengan efek 3D PiP filter diakatifkan. Dalam hal multi camera angle, Edius 4 lebih unggul dengan kemampuannya mengedit delapan angle, dibanding Adobe Premiere Pro2 yang hanya empat angle. Hal baru yang lain adalah kemampuan untuk merubah speed dalam satu klip secara dinamik. Fasilitas ini sangat berguna dalam pembuatan iklan yang biasanya dibatasi dengan durasi yang sudah ditentukan sebelumnya. Berbeda dengan Avid Liquid, Edius 4melakukannya dalam real time.

Untuk sebuah produk yang boleh dikatakan belum sedewasa pesaing-pesaingnya, Edius 4 layak mendapat acungan jempol. Mengedit video secara realtime tanpa hardware menjadi pertimbangan menarik, dibanding dengan program editing lain yang harus menggunakan hardware. Perlu dicatat juga bahwa Edius sangat stabil, hampir tidak pernah mengalami crash. Untuk editor yang lebih serius tetap dapat menggunakan bundle hardware yang akan mendongkrak kinerja dan tambahan satu atau dua layer realtime.

  • SPESIFIKASI

Sistem Requirment

  • Dual Intel® Xeon® 2.8GHz processors or faster
  • 1GB RAM
  • One free PCI 64-bit/66MHz slot (rev. 2.2)*
  • One free PCI 64-bit or 32-bit/66MHz slot (rev. 2.2)
  • 800MB free disk space
  • ATA100/7200rpm or faster hard disk, capable of sustaining at least 20MB/sec data transfer.
  • A RAID stripe set of two or more hard disk drives is required for multiple HD stream output
  • Graphics card with at least 128MB of video RAM and hardware-based DirectDraw overlay and 32-bit color display at a 1024×768 resolution
  • One free 5.25-inch mounting bay
  • Windows® XP Home or Windows® XP Professional (Service Pack 2 or later)
  • DirectX 9.0 or later
  • Soundcard
  • DVD-ROM reader to access sample content

  • Video Formats (Capture)
    • Canopus DV – 720×480/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
    • YUY2 (Uncompressed) – 720×486/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
    • Canopus Lossless – 720×486/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
    • HDV/Canopus HQ – 1080/59.94i (NTSC), 1080/50i (PAL), 720/30p (NTSC),
    • 720×480/60p (NTSC), 720×576/25p (PAL), 720×576/50p (PAL)

  • Video Formats (Output)
    • DV/DVCAM – 720×480/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
    • HDV – 1080/59.94i (NTSC), 1080/50i (PAL), 720/30p (NTSC), 720×480/60p (NTSC), 720×576/25p (PAL), 720×576/50p (PAL)
    • S-Video, composite – 720×480/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
    • BNC component – 1080/59.94i (NTSC), 1080/50i (PAL), 720×480/59.94i (NTSC), 720×576/50i (PAL)
  • Digital Video Input/Output
    • 1 x 4-pin FireWire
  • Analog Video Input/Output
    • 1 x S-Video and composite combined (7-pin miniDIN) input
    • 1 x S-Video and composite combined (7-pin miniDIN) output
    • 1 x component (BNC Y, Pb, Pr) output
  • Analog Audio Input/Output
    • 1 x stereo (3.5mm, unbalanced) input
    • 1 x stereo (3.5mm, unbalanced) output
    • 1 x stereo (RCA, unbalanced) output

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.